Tampilkan postingan dengan label FANTASY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FANTASY. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2011

REVIEW: THE TWILIGHT SAGA: BREAKING DAWN - PART 1
























Edward Cullen: I'll see you at the alter.

Bella Swan: I'll be the one in white.

Bergembiralah para penggemar Twilight! Akhirnya Breaking Dawn - Part 1 rilis juga. Bagi para Twi-Hards (sebutan untuk penggemar berat Twilight) film ini tentu saja sudah sangat dinantikan. Apalagi didalamnya akan ada pernikahan antara Edward Cullen dan Bella Swan (finally!). Setelah kisah cinta yang berbelit-belit dan 'unyu-unyu' akhirnya si vampir pucat berglitter berhasil membawa sang pujaan hati ke pelaminan. Lucu memang (atau romantis?) melihat vampir menikah dengan manusia biasa, apalagi setelah perjuangan panjang selama 3 film! Seperti review-review film Twilight yang sudah pernah ada di blog ini, saya selalu mengatakan kalau saya sangat menyukai novelnya, menurut saya cerita karangan Stephenie Meyer itu sangat bagus dan seru sekali untuk dibaca. Namun visualisasi yang diangkat dari novel ke layar lebar sangat lah menggelikan, atau bisa dibilang tidak sesuai dengan ekspektasi saya yang adalah penggemar novelnya. Well, untuk Breaking Dawn - Part 1 ini sebetulnya saya tidak mengatakan kalau film ini sangat-amat-buruk-sekali, hanya saja kalau anda bukan fans Twilight lebih baik lewatkan saja film ini daripada nanti anda mual-mual.

Setelah melewati berbagai rintangan; mulai dari perang dengan sesama vampir, serigala, sampai konflik cinta segitiga yang super 'dirumitkan' itu, akhirnya Edward Cullen (Robert Pattinson) berhasil membawa sang pujaan hati Bella Swan (Kristen Stewart) ke pelaminan. Di usia yang baru 18 tahun ini akhirnya Bella telah mengambil keputusan mantap untuk menikah dengan vampir yang sangat dicintainya itu. Mereka pun berbulan madu ke sebuah pulau private yang romantis. Hubungan yang selama ini hanya 'kissing-only' pun tentu saja berkembang ke langkah selanjutnya. Baru sebentar, tiba-tiba Bella dinyatakan hamil. Mereka pun kembali ke rumah keluarga Cullen. Kehamilan Bella prosesnya sangatlah cepat, janin yang dikandungnya bukanlah janin biasa melainkan campuran antara manusia dan vampir. Dikarenakan proses pertumbuhan janin yang sangat cepat itu, kesehatan Bella pun menurun drastis. Tubuh Bella sepertinya tidak akan kuat dan hal ini tentu saja sangat membahayakan nyawanya.

Edward yang tidak mau kehilangan Bella pun menyarankan agar janin tersebut digugurkan saja, namun Bella bersikeras ingin mempertahakan janin tersebut. Bujukan dari Jacob (Taylor Lautner) untuk menggugurkan bayi itu pun tak digubrisnya. Kabar tentang bayi setengah vampir yang sedang dikandung Bella ini pun terdengar juga oleh kawanan serigala. Para serigala ini menganggap kalau bayi tersebut nantinya akan membahayakan sehingga mereka berencana untuk memusnahkan bayi yang sedang dikandung Bella itu. Keluarga Cullen pun tidak tinggal diam, dibantu oleh Jacob mereka berusaha sekuat tenaga agar para kawanan serigala itu tidak dapat menyentuh Bella sama sekali. Masalah pun bukan hanya sampai disitu. Permasalahan utamanya adalah apakah Bella bisa bertahan sampai melahirkan bayi tersebut? Kalau sampai Bella meninggal sebelum bayi tersebut lahir maka Edward pun tidak berkesempatan untuk mengubah Bella menjadi vampir. Artinya, ia harus merelakan Bella meninggal dunia.

Sebetulnya menurut saya agak konyol Breaking Dawn dibagi menjadi Part 1 dan Part 2. Karena hampir setengah film di Part 1 ini hanya menyajikan adegan mesra Edward dan Bella saja. Saya sampai merasa sedang menonton film panas Robert Pattinson dan Kristen Stewart. lol. Film ini pun terasa lambat dan hanya berputar-putar disitu saja. Memang sih maksudnya supaya chemistry antara Edward dan Bella terasa intens, namun menurut saya jadinya agak sedikit berlebihan. Dari segi akting menurut saya Kristen dan Taylor menunjukkan kemajuan yang lumayan signifikan. Kalau Robert yaa..begitu-begitu saja lah. Mungkin para Twi-Hards akan tetap terhibur melihat idola mereka 'gelendotan' dari awal sampai pertengahan film, bahkan mungkin sedikit-sedikit akan keluar kata-kata ‘ugh..so sweet’. Yap, because they love it! Makanya saran saya, kalau anda bukan Twi-Hards jangan sampai geli sendiri menyaksikan film ini. Two tumbs up untuk make-up dan spesial efek Bella pada saat mengandung, wajahnya terlihat tirus dan lesu sekali, very convising! Beberapa hal yang saya nikmati dari film ini: design altar pernikahan di awal film sangat indah sekali dengan juntaian bunga putih yang terasa romantis, gaun pernikahan yang dipakai Bella bagian belakangnya super keren, dan entah bagaimana caranya Taylor Lautner terlihat sedikit lebih ganteng di film ini. Ohh well..itu saja. :p






Jumat, 28 Oktober 2011

REVIEW: MIDNIGHT IN PARIS
























"Nostalgia is denial - denial of the painful present."

Siapa yang tidak suka dengan kota Paris? Siapa juga yang tidak suka berfantasi? Kalau suka dengan keduanya, berarti Midnight in Paris adalah tontonan yang pasti akan menghibur anda. Saya bisa dibilang lumayan nge-fans dengan Woody Allen, meskipun tidak semua filmnya bagus dan sukses di pasaran. Tapi ada benang merah dari setiap film-film Woody yang sangat saya sukai, dialog-dialog 'pintar' khas Woody Allen lah yang selalu saya nantikan. Tiga besar film Woody yang paling saya suka adalah Annie Hall (1977), Match Point (2005), dan Vicky Cristina Barcelona (2009). Setelah menonton film terbarunya Midnight in Paris, list tiga besar tersebut pastinya akan bergeser, karena saya suka sekali dengan film ini! Saya suka dengan ide nostalgia yang diangkat Woody, belum lagi saya yang memang sangat jatuh cinta dengan kota Paris yang katanya paling romantis ini langsung terhipnotis sepanjang film oleh setting-an kota Paris yang berusaha ditonjolkan Woody. Film ini juga terasa sedikit berbeda dari film-film Woody Allen sebelumnya, but in a good way though. Buktinya Midnight in Paris sukses menjadi tontonan pembuka di Festival Cannes tahun ini dan lumayan sukses secara finansial.

Gil (Owen Wilson) dan Inez (Rachel McAdams) adalah sepasang kekasih yang sedang berlibur ke Paris sekaligus menemani orang tua Inez mengurus bisnis mereka disana. Gil adalah seorangscreenwriter Hollywood yang sukses, namun ia sedang berkutat dengan novel perdana yang menjadi impiannya. Gil selalu menyukai kota Paris, ia menganggap kalau Paris adalah kota yang tepat untuk seniman seperti dirinya. Bahkan, ia memiliki impian untuk tinggal di Paris setelah ia menikah nanti. Ia bahkan tidak keberatan berjalankaki di kota itu pada saat hujan, bahkan Gil merasa itulah saat-saat terbaik yang dinantikannya. Gil juga punya pemikiran bahwa pada masa1920-an pasti sangat asik apabila hidup dan tinggal di Paris, itu merupakan 'golden age' versi Gil.

Suatu malam pada saat Inez pergi ke club dengan teman-temannya, Gil lebih memilih untuk berjalan kaki di sepanjang jalanan Paris menuju hotelnya. Tepat tengah malam, ada sebuah mobil yang berhenti dan mengajaknya untuk bergabung. Tanpa pikir panjang Gil pun ikut dengan orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Ketika tiba di sebuah pesta, Gil mengamati keadaan sekitar. Terlihat suasana vintage yang sangat kental, dengan gaya busana dan tata rambut seperti jaman dulu. Namun yang membuat Gil kaget setengah mati adalah ketika ia disana berkenalan dengan nama-nama besar seperti Ernest Hemingway (Corey Stoll), F. Scott Fitzgerald (Tom Hiddleston), Zelda Fitzgerald (Alison Pill), Cole Porter (Yves Heck), Pablo Picasso (Marcial Di Fonzo Bo), Salvator Dali (Adrien Brody), dll. Gil pun seperti kembali ke masa lalu, masa yang sangat ia impi-impikan. Sejak hari itu, setiap tengah malam ia selalu kembali bertemu dengan 'teman-teman' nostalgianya. Curhat dengan Fitzgerald, berkonsultasi tentang novel dengan Hemingway, mendapat petuah hidup dari Dali, sampai melihat langsung Picasso melukis.

Saya menonton Midnight in Paris tanpa mengetahui jalan ceritanya sama sekali. Saya belum membaca sinopsis dan tidak memiliki bayangan apapun tentang isi film ini. Terus terang saya tertarik sekali dengan judul dan posternya, namun entah mungkin karena pemeran utamanya adalah Owen Wilson, saya kurang begitu tertarik. Namun ternyata perlu saya akui kalau Owen Wilson adalah pilihan yang tepat sebagai Gil, ia membawakan karakter Gil dengan sangat natural. Minggu lalu saya memutuskan untuk mencoba menonton film ini karena faktor 'Paris' yang membuat penasaran dan nama besar Woody Allen disana. Olala..ternyata saya sangat menyukai ide cerita yang diangkat Woody dalam film ini! Terkadang nostalgia memang membawa perasaan menyenangkan tersendiri. Melihat karakter Gil yang sedang bernostalgia ke masa-masa golden age-nya, saya sepertinya juga merasa excited sendiri. Ada sisi menggelitik tersendiri ketika melihat karakter-karakter besar seperti Hemingway, Fitzgerald, Dali, Picasso, Porter, dll 'dihidupkan' kembali.

Kehadiran nama-nama yang sudar familiar di daftar pemeran pendukung juga membuat film ini semakin menarik. Marion Cotillard juga sukses mencuri perhatian dalam film ini. She is so-super-duper pretty! Latar belakang kota Paris dengan bentuk bangunan-bangunan yang menurut saya romantis itu sangat pas dengan tema nostalgia, apalagi didukung dengan pilihan-pilihan soundtrack yang sempurna. Saya juga suka dengan ending yang dipilih oleh Woody. Saya merasa kalau pada ujungnya nanti, dalam situasi apapun yang sedang kita alami, kita memang harus mengikuti kata hati (but use a little bit of your brain too, of course!). Semua ilusi atau apapun yang sedang dialami oleh karakter Gil sebenarnya merupakan jeritan hatinya selama ini, fantasi yang dijalaninya beberapa waktu terakhir di Paris menurut saya adalah refleksi dan komunikasi yang sedang berusaha ia keluarkan. Dengan berfantasi seperti itu Gil mendapatkan ketenangan dan kehadiran tokoh-tokoh favoritnya itu juga membuatnya lebih percaya diri dengan keputusan yang akan diambilnya. Midnight in Paris adalah salah satu film favorit saya tahun ini! Voilà! :) Ngomong-ngomong kapan yaa saya bisa berkunjung ke kota Paris? Hmm.. *ngarep* hahahaha..






Kamis, 18 Agustus 2011

REVIEW: HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS: PART 2















































"It all ends."

Usai sudah franchise yang luar biasa sukses selama hampir 14 tahun terakhir ini dan disukai oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia, Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 menjadi film Harry Potter ke-8 sekaligus menjadi film penghabisan. Bagi para penggemar setianya, sudah pasti ini membawa kesedihan yang luar biasa. Apalagi bagi mereka yang merasa 'tumbuh' bersama dengan Harry, Ron, dan Hermione. Meskipun saya bukan penggemar fanatik, saya pun merasa sedih karena tahun depan sudah tidak ada lagi hype Harry Potter yang seketika membuat bioskop penuh sesak. Tapi saya juga senang, karena film ini ditutup dengan sedemikian memuaskan oleh David Yates. Big thanks to him! Berhubung saya bukan pembaca novelnya, jadi saya tidak berhak memberikan komentar mengenai adaptasi yang ada, tapi saya puas sekali dengan apa yang saya tonton. Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 2 merupakan salah satu film Harry Potter terbaik dari yang ada.

Harry (Daniel Radcliffe), Ron (Rupert Grint), dan Hermione (Emma Watson) melanjutkan misi terakhir dan yang paling menentukan guna mengalahkan Lord Voldermort (Ralph Fiennes). Hanya tinggal tiga buah Horcruxes yang belum diketemukan, apabila mereka bisa menemukan sisanya maka sudah pasti rencana akan berjalan lancar. Namun misi mereka menemukan letak Horcruxes diketahui oleh Voldertmort dan tentu saja pertempuran besar pun tak terhindari lagi. seluruh kekuatan dan pendukung Voldermort melawan para pendukung Harry Potter dari Hogwarts bertempur habis-habisan. Namun, yang pada akhirnya dapat mengalahkan Voldertmort hanyalah Harry seorang.

Diantara semua film Harry Potter yang ada, saya berani mengatakan kalau film ini lah yang memiliki visual efek paling jempolan. Luar biasa halus dan memanjakan mata! Part 2 juga merupakan film Harry Potter dengan adegan pertempuran yang paling intens dan menegangkan. Memang plot dari Part 2 ini tidak terlalu istimewa, namun adegan action tanpa henti yang disajikan disini sungguh membuat jantung berdetak lebih cepat, penonton seakan tidak sabar melihat Harry Potter vs. Lord Voldertmort, setelah menunggu sampai delapan film! Fiuhh..finally. Karakter Neville Longbottom (Matthew Lewis) merupakan karakter yang paling saya sukai dari film ini. Begitu juga pada saat terungkapnya asal usul Professor Severus Snape (Alan Rickman), menurut saya scene tersebut digambarkan dengan baik sekali, sangat menyentuh namun tidak cengeng.

Para pemain utama seperti Daniel, Rupert, dan Emma terlihat sekali memberikan performa yang juga 'habis-habisan'. Disamping penampilan mereka yang terlihat lebih mature, kualitas akting yang ada dalam Part 2 juga terasa lebih matang dan prima. Bukan hanya mereka, menurut saya seluruh cast yang terlibat dalam film ini sepertinya memang berusaha mati-matian membuat film ini menjadi film penutup yang baik. Dan mereka berhasil! Apalagi yang penonton harapkan? Ini sudah lebih dari cukup dan menurut saya David Yates sudah mampu memenuhi ekspektasi para penggemar. Saya pribadi sangat puas dengan film ini. Sedih juga rasanya menerima kenyataan kalau film ini akhirnya sudah selesai. Tapiii..well done! Overall, sangat amat memuaskan! :)











Selasa, 14 Juni 2011

REVIEW: BEASTLY
























"You have a year to make someone love you, or stay like this forever."

Beastly adalah sebuah cerita modern dari dongeng klasik 'Beauty and the Beast'. Sayangnya, kalau anda mengharapkan film ini seindah kartun versi Disney, anda akan kecewa. Sebetulnya ketika tahu bahwa kisah si cantik dan si buruk rupa ini akan dibuat versi live-action modern saya agak skeptis, satu hal yang tetap membuat saya penasaran ingin menonton film ini hanya Alex Pettyfer. Hehe.. Namun menurut saya para remaja mungkin masih akan terhibur dengan film ini, karena film ini termasuk ringan apalagi menyangkut cinta-cintaan remaja. Saya sendiri lumayan terhibur dengan adanya deretan soundtrack-nya yang memang bagus-bagus dan tentu saja lelucon Neil Patrick Harris, meskipun itu semua tidak terlalu membantu memberikan poin lebih pada keseluruhan film ini.

Kyle (Alex Pettyfer) adalah seorang pemuda yang tampan, kaya, dan populer, namun ia juga sombong dan banyak mengganggu anak-anak di sekolahnya. Ketika si penyihir, Kendra (Mary-Kate Olsen), merasa tersinggung dengan ejekan dari Kyle, ia akhirnnya menaruh mantra jahat pada Kyle yang membuatnya menjadi buruk rupa. Satu-satunya cara agak ketampanannya kembali seperti semula adalah menemukan cinta sejati dalam waktu satu tahun. Jika Kyle tidak dapat menemukan perempuan yang betul-betul menerima dan mencintainya apa adanya dalam kurun waktu tersebut, ia akan selamanya menjadi buruk rupa.

Ketika sang ayah tahu kalau wajah anaknya menjadi seperti itu dan malu kalau sampai diketahui orang lain akhirnya Kyle diasingkan ke sebuah rumah terpencil bersama seorang guru privat yang buta (Neil Patrick Harris) dan pembantu rumah tersebut (Lisa Gay Hamilton). Secara tidak sengaja ia mulai memperhatikan Lindy (Vanessa Hudgens), teman sekelasnya yang tidak populer. Lindy yang mempunyai masalah keluarga kemudian mulai menarik perhatian Kyle dan perlahan Kyle mulai jatuh cinta padanya. Lindy sebetulnya juga mempunyai perasaan khusus pada Kyle. namun kemudian yang menjadi pertanyaan adalah: apakah Lindy mau menerima Kyle yang buruk rupa seperti sekarang?

Beastly sebetulnya memang dibuat Daniel Barnz sesuai dengan cerita dongengnya, lengkap dengan nuansa modern dan soundtrack anak muda yang 'in'. Namun entah kenapa script film ini sangat biasa. Alex Pettyfer sebagai salah satu aktor yang namanya sedang cemerlang di kancah Hollywood memang bermain lumayan baik dalam film ini, namun sayang tidak adanya chemistry dengan Vanessa Hudgens menjadi masalah utama film ini. Film bergenre romance ini memang semestinya menceritakan sebuah cerita cinta klasik adaptasi dongeng fantasi, namun apa yang dihasilkan Beastly terasa kurang romantis karena tidak adanya chemistry antara pasangan pemeran utamanya itu. Satu hal lagi, Alex Pettyfer didandani jelek seperti itu saja masih tetap terlihat keren tuh! Haha.. Kalau sekedar untuk menonton iseng karena tidak ada lagi film bagus di bioskop atau mau melihat Alex Pettyfer/Vanessa Hudgens di layar lebar yaa tidak masalah, tapi menurut saya nonton di DVD juga sudah cukup. :)






Jumat, 18 Maret 2011

REVIEW: HEREAFTER
























"What happen after we die?"

Ketika Clint Eastwood mengarahkan sebuah film, ia bukan hanya sekedar membuat film, ia membuat karya seni. Ia mempersiapkan strategi khusus pada setiap aspek dalam proses pembuatan filmnya: pemandangan, musik, akting, dan cerita. Ini sangat jelas bahwa setiap detail dirancang dengan seksama. Film terbarunya, Hereafter, mengeksplorasi tentang kematian dan apa yang terjadi setelah kita binasa. Di tangan sutradara lain yang standarnya dibawah Eastwood, mungkin materi film ini akan divisualisasinya menjadi sebuah film yang cheesy. Tapi tidak di tangan Eastwood, meskipun ini merupakan tema baru baginya, film ini menjadi bermakna apalagi didukung kualitas akting aktor sekelas Matt Damon.

Hereafter bercerita tentang tiga individu berbeda yang masing-masing sedang memiliki masalah yang berhubungan dengan kematian. Pertama, George (Matt Damon) yang mampu berbicara dengan orang mati. Mungkin di atas kertas kemampuannya itu terbilang keren, namun cukup sulit bagi George untuk memiliki hubungan normal karena hal itu. Dia sekarang malah memilih untuk menjadi buruh pabrik dengan gaji yang kecil. Dalam pikirannya, pekerjaannya saat ini lebih baik dan tidak membebani dirinya. Ada juga seorang wanita Perancis, Marie Lelay (Cecile de France) yang entah bagaimana terselamatkan dari Tsunami. Ia memiliki 'penglihatan' setelah bencana itu, namun teman kerjanya malah tidak percaya dan menganggapnya gegar otak atau bicara omong kosong. Kita juga diperkenalkan dengan sepasang anak kembar, Marcus dan Jason (Frankie dan George McLaren) yang mencoba untuk menjaga diri mereka sendiri karena ibu mereka pemabuk dan tidak dapat diandalkan.

Ketiganya menceritakan tiga kisah yang berbeda, tetapi benang merahnya adalah kematian. Marie berhasil lolos dari kematian dan semenjak saat itu ia malah melihat hal-hal aneh. Si kembar malah secara langsung melihat kematian karena ibu mereka yang pemabuk. George memiliki karunia berbicara dengan orang mati, atau ia lebih suka menyebutnya, kutukan. Orang selalu mengetuk pintu dan mengganggu dia untuk membacanya. Dia selalu harus memberitahukan pada mereka kalau ia sudah tidak melakukan hal itu lagi. Bagi George, ia ingin hidup normal dengan manusia, bukan dikelilingi oleh banyaknya orang yang sudah mati.

Clint Eastwood berurusan dengan topik berat disini, namun Hereafter tidak terkesan murahan, dipaksakan, atau menggurui. Jika mengangkut kematian, terserah pada individu yang menonton, bagaimana mereka menganggap film ini. Apa yang mereka percayai atau tidak. Meskipun Matt Damon adalah bintang utama dalam film ini, namun secara keseluruhan film ini bukan hanya tentang dirinya. Ini lebih tentang beberapa karakter kuat dalam film dan bagaimana mereka terhubung satu sama lain. Hereafter lebih minitikberatkan pada karakter-karakter kuat didalamnya, emosi, dan harapan. Jadi jangan berharap anda akan melihat hantu atau menduga-duga kapan hantu-hantu itu akan muncul. Ini bukan film horror, ini drama. Saya pribadi menyukai film ini. Memang tidak lebih bagus dari The Sixth Sense (1999), tapi cukup berhasil jika dibandingkan film sejenis lainnya. Opening scene tentang Tsunami di Thailand berhasil membuat saya sedikit bergidik ngeri.






Kamis, 13 Januari 2011

REVIEW: LET ME IN
























Owen: Are you a vampire?
Abby:
I need blood to live.

Film ini merupakan sebuah adaptasi dari film horror sukses asal Swedia 'Let The Right One In' (2008) karya Thomas Aldredson. Kali ini sang sutradara Matt Reeves (Cloverfield) dinyatakan banyak pihak berhasil membuat sebuah adaptasi yang baik dan setia pada versi aslinya. Saya sendiri belum menonton 'Let The Right One In', jadi saya tidak bisa berkomentar tentang hal tersebut. Namun, terus terang saja yang awalnya membuat saya sangat tertarik untuk menonton adalah pasangan pemeran utama dalam film ini, Chloe Moretz dan Kodi Smit-McPhee! Saya suka keduanya, menurut saya dua aktor cilik yang beranjak remaja ini karirnya di Hollywood akan bertambah cemerlang tahun demi tahun. Dari segi cerita menurut saya 'Let Me In' bisa dibilang berbeda dari horror kebanyakan. Sisi romantika sangat kental disini, jadi penonton tidak akan terlalu ditakuti tapi disuguhkan sebuah jalan cerita yang lebih berbobot untuk ukuran horror.

Bertempat di sebuah kota kecil di New Mexico pada sekitar tahun 1983. Owen (Kodi Smit-McPhee) adalah seorang anak laki-laki yang hanya tinggal berdua dengan ibunya di sebuah kompleks apartemen sederhana. Ibu dan ayahnya sedang berjuang melalui perceraian yang buruk. Di sekolah nasib Owen lebih buruk, Kenny (Dylan Minnette) dan gerombolannya selalu mengganggu Owen, bahkan dengan cara yang keterlaluan. Mungkin dengan apa yang dialaminya di rumah dan sekolah, Owen tumbuh menjadi bocah yang sedikit 'aneh'. Tiba-tiba Owen kedatangan tetangga di apartemennya, seorang gadis seumurannya bernama Abby (Chloe Moretz) yang pindah ke tempat itu bersama ayahnya (Richard Jenkins). Abby juga tak kalah aneh dengan Owen, ia mempunyai bau khas yang menurut Owen 'lucu', ia juga lebih sering muncul pada malam hari; itu pun tanpa mengenakan alas kaki. Mungkin karena sama-sama 'aneh', dengan cepat Owen dan Abby menjadi akrab satu sama lain. Namun semakin berjalannya waktu, Owen menyadari kalau teman barunya ini bukanlah manusia biasa, ia pun sadar betul kalau perasaannya pada Abby yang sudah mulai bertambah kuat ini sangat mungkin akan mengancam nyawanya.

Tentu bukan spoiler kalau saya mengatakan kalau Abby adalah vampire. Kebanyakan orang pasti ingin menyaksikan 'Let Me In' dengan harapan akan menyaksikan sebuah film horror tentang vampire yang menegangkan. Saya hanya ingin memperjelas, 'Let Me In' memang lumayan menegangkan, tapi ini tidak seperti film horror yang biasanya. Jalan cerita sangat diperhatikan dan sisi romantisme sangat terasa disini, sehingga kalau anda mengharapkan banyak dikagetkan dan akan takut setengah mati pastinya anda akan kecewa. Film seperti ini bukanlah film favorit saya, karena entah kenapa menurut saya tema ceritanya agakcheesy. Tapi saya tetap memberikan jempol kepada dua bintangnya, Moretz dan Smit-McPhee yang tampil sangat baik dalam film ini. Setelah terakhir tampil sangat mengesankan sebagai Hit Girl dalam film 'Kick-Ass' (2010), Moretz tampil apik lagi dalam film ini. Begitu juga dengan Smit-McPhee yang terakhir kalau saya sangat terkesan dengan aktingnya yang luar biasa dalam 'The Road' (2009). Menurut saya mereka adalah kombinasi yang sempurna dalam 'Let Me In', yang berhasil membuat saya sebagai seseorang yang kurang menyukai genre seperti ini pun paling tidak masih bisa menikmati dari awal hingga akhir film. Intinya, film ini bukanlah film vampire biasa. Hehehe..





Kamis, 09 Desember 2010

REVIEW: TANGLED 3D




























"I know not who you are, nor how I came to find you, but may I just say... Hi. How you doin'?"


Disney's back with their classic CGI animation! Yayyy! Akhirnya Disney kembali membuat film animasi klasik yang sudah dirindukan banyak orang. Tidak hanya anak kecil saja yang menyukai animasi seperti ini, orang dewasa pun pasti akan terhibur dengan jalan cerita unik, kisah yang manis, lelucon-lelucon lucu, gambar nan indah, serta alunan lagu sepanjang film yang enak didengar. Menurut saya Tangled sukses menyembuhkan kerinduan penonton akan film animasi musikal yang dulu sangat diminati seperti Beauty and the Beast, Cinderella, Snow White, dll. Putri Rapunzel mungkin belum seterkenal Putri Salju, tapi saya yakin karakternya akan gampang disukai anak-anak perempuan. Dengan rambut pirang super panjang, serta wajah cantik dan suara indah, pastinya Putri Rapunzel akan menjadi idola baru.


Pada suatu hari, seorang nenek tua jahat bernama Mother Gothel (Donna Murphy) memiliki tanaman ajaib yang dapat membuatnya tetap terlihat awet muda dan cantik. Namun, tanaman tersebut berhasil ditemukan dan digunakan untuk menyembuhkan sang Ratu dan sihir tersebut meresap ke anaknya yang belum lahir. Gothel lalu mencuri bayi tersebut dan mengangkatnya menjadi anaknya sendiri, memanggilnya dengan nama Rapunzel (Mandy Moore) dan menempatkanya dalam sebuah tempat rahasia dan tidak memperbolehkan Rapunzel meninggalkan tempat tersebut sama sekali. Setiap tahun pada hari ulang tahunnya, orang tua Rapunzel selalu menyalakan lentera dan menerbangkannya ke langit. Rapunzel selalu melihat dari kamarnya dan sangat ingin melihat secara langsung. Pada ulang tahun ke-18, ia meminta izin pada Mother Gothel untuk pergi ke dunia luar, namun tidak diizinkan. Tiba-tiba Flynn Rider (Zachary Levi) tidak sengaja menemukan tempat rahasia Rapunzel saat sedang melarikan diri. Mereka pun berteman dan mempunyai kesepakatan untuk saling membantu satu sama lain sampai akhirnya jatuh cinta.


Sebuah animasi yang sangat baik. Saya menonton versi 3D, akan tetapi menurut saya efek 3D-nya tidak terlalu istimewa. Menonton versi 2D-nya pun rasanya sudah bagus karena memang latar belakang pemandangan dan warna dalam animasi ini indah sekali. Terlebih pada adegan lentera terbang, WOW ~ sangat amat indah! Magical moment! Soundtrack disini juga asik untuk dinikmati apalagi didukung dengan suara Mandy Moore yang merdu. Tangled adalah sebuah animasi yang cocok untuk ditonton anak-anak, tentu saja orang dewasa yang memang menyukai animasi boleh menonton film ini. Beberapa lelucon dan karakter disini; seperti si kuda dan si bunglon, sungguh membuat saya terbahak-bahak. Secara keseluruhan, Disney berhasil membawa kembali nuansa animasi klasik yang sepertinya sekarang sudah mulai terlupakan. Great classic musical animation from Disney! :)






Selasa, 07 Desember 2010

12th JIFFEST 2010 - REVIEW: SCOTT PILGRIM VS. THE WORLD




























● Scott Pilgrim vs. The World - USA


Thank you so much JiFFest for showing this movie!!! Senang sekali rasanya begitu tahu kalau film Scott Pilgrim vs. The World ditayangkan di JiFFest tahun ini, sekaligus bangga karena ini adalah penayangan perdana di Asia setelah sebelumnya hanya tayang di Amerika. Film ini merupakan salah satu film tahun ini yang saya tunggu-tunggu, setelah melihat trailernya saya tertarik karena sepertinya akan sangat fun sekali menyaksikan film yang dikemas seperti video game ini di layar lebar. Tetapi harapan untuk menyaksikan di bioskop sempat pupus karena memang film seperti ini penontonnya sangat segmented dan tentu saja sedikit kemungkinan untuk dapat ditayangkan disini. Maka, terima kasih untuk JiFFest yang telah berhasil menayangkannya, beruntung rasanya saya bisa menjadi salah satu orang yang menyaksikan di layar lebar. Memang ternyata setelah saya tonton, ini bukanlah film terhebat tahun ini, bukan juga film terfavorit saya, tetapi sensasi yang terjadi pada saat saya menonton film ini terasa begitu unik dan tidak pernah dirasakan sebelumnya. Unique! Seru!


Diangkat dari enam segmen graphic novel Scott Piglrim karya Bryan Lee O'Malley, ceritanya sangat simple dan to the point. Seorang lelaki bertemu dengan wanita impiannya, lalu ia berusaha keras untuk mendapatkan wanita tersebut. Lelaki itu adalah Scott Pilgrim (Michael Cera), seorang gitaris dari band Sex Bob-Omb yang berpenampilan ala kutu buku alias nerd. Ia sedang berpacaran dengan gadis remaja keturunan Cina, Knives Chau (Ellen Wong). Scott terlihat sangat santai dan menikmati hidupnya sampai suatu hari ia bertemu dengan Ramona Flowers (Mary Elizabeth Winstead), gadis berambut ungu yang selama ini ada di mimpinya. Scott menjadi terobsesi dan mengandalkan segala cara untuk dapat berkenalan dengan Ramona. Ia berhasil, mereka menjadi sangat dekat. Tapi untuk berpacaran dengan Ramona, ia harus berduel dengan ketujuh mantan pacar Ramona. Mau tidak mau Scott Pilgrim pun harus meladeni duel tersebut agar bisa mendapatkan kekasih yang diimpikannya. Tapi selain enam mantan pacar Ramona tersebut, ia juga masih harus berurusan dengan pacarnya sendiri, Knives Chau.


Sang sutradara, Edgar Wright (Shaun of the Dead, Hot Fuzz) berhasil membawa sesuatu yang sangat orisinil ke dalam film ini. Para comic books lover dan gamers pasti akan terpesona dengan film ini. Edgar sangat konsisten dengan apa yang dibuatnya, banyak sekali aspek-aspek komikal di setiap scene, begitu juga dengan aspek dalam game yang sepertinya sangat kental sekali. Sebuah resiko yang berani diambil oleh Edgar Wright, karena dengan dibuat setia seperti komik dan game, Scott Pilgrim vs. The World tentu saja bukalah sebuah film yang dapat dinikmati semua pihak. Pastinya akan ada yang memuji setengah mati, tapi ada juga yang akan mencerca habis-habisan. Para pemain dalam film ini cocok dengan karakter masing-masing. Michael Cera terlihat seperti ..well.. Michael Cera. Saya penasaran juga kapan Cera akan mengambil peran-peran lain yang berbeda dengan film yang pernah ia mainkan sebelumnya, karena sepertinya selama ini Cera selalu mengambil peran dengan karakter itu-itu saja. Btw, seperti yang sudah saya tulis diatas, Scott Pilgrim vs. The World bukanlah film terfavorit saya tahun ini, tetapi tidak mungkin kalau saya tidak memuji ide orisinil yang dibawa Edgar Wright dalam film ini. Visual efek terlihat mengagumkan, soundtrack juga asik sekali, jokes yang ada sangat menghibur, belum lagi para cameo seperti Chris Evans, Kieran Culkin, Brandon Routh, Alison Pill, Mark Webber, Jason Schwartzman, dll yang sangat menyegarkan mata. Menonton film ini saya seperti sedang menonton pertandingan seru dalam sebuah video game sambil sesekali membaca komik. :)